20150520

Artinya Sudah (Saatnya) Bergeser? Mungkin!?

Banyak cerita yang terjadi beberapa waktu terakhir, mungkin akan aku pisah menjadi beberapa post, karena memang ini hanya fragment yang ”hanya aku”. Gak ada makhluk hidup yang harus disakiti dalam hal ini.

Kita mulai saja.

Lewat tengah malam, AC yang yang bertiup di gerbong semakin tereasa dingin, disamping karena stamina yang sudah diperas habis beberapa hari terakhir, waktu perjalan kembali tereasa jauuh lebih capek, tapi mata ini tetep keukeuh aja gak mau melaksanakan tugasnya dengan baik.

Sudah tertanam mantab di otakku jika perasaan yang aku tunggu datangnya itu harus diiringi dengan gejala-gejala itu.


Harus deg-degan dulu.

Harus kehabisan kata-kata dulu.

Harus menunggu momen dulu.

Harus kepikiran tiap hari dulu.


Dan ending-nya... kita malah melakukan tindakan nekat (baca: bodoh) yang gak jelas darimana sisi logis dari keputusan itu.

Hanya itu yang ada di pikiranku selama ini.

Tapi sejak numpang hidup dan ketemu macam-macam orang di tempat ini, aku jadi semakin meragukan semua ilmu tentang ini-itu yang sudah kupelajari sepanjang hidupku. Apa iya harus melalui fase-fase itu dulu baru bisa bilang,


“Oke… gue suka ama dia!”


Aku hanya menatapnya yang kelelahan, memaksakan membaca novel yang dibawanya untuk mengisi waktu, padahal sudah jelas terlihat raut muka lelah di wajahnya. Sesekali kami hanya saling bertukar pandang untuk beberapa detik. Bertukar gesture. Saling lempar pertanyaan retoris yang aku yakin masing-masing dari kami sudah taujawabannya, seperti

"Dingin?"
"Capek?"

"Gak ngantuk?"

dan hal hal semacam itulah pokoknya.

Waktu berlalu dan kita semakin menggigil, kain tipis yang gak jelas fungsinya dan gak memenuhi kaedah sebagai selimut dia paksakan untuk menjadikannya tameng dari tiupan angin AC di gerbong pagi itu.

Gak ada pikiran ato pertimbangan apapun sampe akhirnya aku menggenggam tangannya yang ternyata sudah dingin luar biasa.Dan dia membalasnya.


Tak ada deg-degan.

Tak ada kehabisan kata-kata.

Tak ada momen yang ditunggu.


Semuanya mengalir begitu saja.

Kemudian pikiran ini muncul di otakku, sampe tulisan ini di buat.


Apa iya fase jatuh cinta harus se-cliché itu?

Apa iya baru bisa dibilang jatuh cinta jika sudah melewati fase-fase itu?

Apa iya semua orang merasakan gejala yang sama?

Pasti ada kemungkinan yang lain untuk sebuah perasaan yang gak bisa diukur dengan logika? Iya kan? Bener kan?


Apakah memang benar sudah bergeser? Apakah memang bisa bergeser?

Ternyata masih banyak hal yang belum gue ngerti.

Dan entah kenapa lebih banyak warna di bayangan ini.

No comments:

Post a Comment